✔ 7 Days With You
Di belakang rumah sakit daerah ayahku bekerja ada sebuah bukit, di tengah bukit itu berdiri sebuah pohon sakura yang indah. Disanalah saya bertemu dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dia ialah orang pertama yang menciptakan mencicipi sebuah perasaan gila ini. Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
10 Tahun yang lalu… Di sebuah ruangan serba warna putih ini saya duduk di pinggir ranjang sembari menatap kaki kananku yang dibalut kain putih. Tak jauh dari daerah itu seorang laki-laki paruh baya menggunakan jas putih menatapku dengan tatapan marah.
“Sean, sudah berapa kali ayah katakan padamu untuk tidak langgar dengan temanmu dan lihat kini dirimu” tutur laki-laki paruh baya itu padaku. Aku membuang mukaku berdecih kesal dengan perilaku ayah yang selalu saja tidak mendengarkanku. Padahal saya langgar hanya untuk membela diriku yang diperlakukan semena-mena oleh temanku.
Jika ayah sudah murka ibarat ini ia tidak berhenti untuk melontarkan kata-kata dan itu membuatku muak. Kuambil tongkat krukku yang tak jauh dariku ku tatap wajah laki-laki paruh baya itu dengan tatapan kesal kemudian berbalik membelakangi laki-laki itu.
“Ayah selalu saja menyalahkanku, saya benci sama ayah” ucapku kesal dan pribadi pergi dari ruangan itu tanpa mempedulikan kata-kata ayahku.
Aku terus berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit yang begitu panjang. Rasa kesal dan amarahku bercampur menjadi satu memenuhi pikiranku. Tanpa kusadari langkahku telah membawaku semakin jauh keluar dari area rumah sakit. Hingga tibalah di suatu daerah dimana sebuah pohon berbunga warna merah muda yang indah mekar dengan sangat indah. Orang-orang Jepang menyebutnya dengan nama pohon sakura.
Aku berjalan mendekati pohon pujian negeri matahari terbit itu dan duduk di bawahnya dengan bersandar di batangnya yang berukuran tidak mengecewakan besar. Tempat ini begitu damai dan sepi serta angin sepoi menyapu kulitku dengan lembut menciptakan diriku ingin tidur sejenak. Perlahan kututup kedua mataku dan menikmati suasana ini, hingga kudengar sebuah bunyi gumam nyanyian menciptakan kedua mataku kembali terbuka.
“Siapa yang sedang bernyanyi ?” batinku dalam hati. Kuedarkan pandanganku ke segala arah namun tak ada seseorang pun. Hawa cuek alasannya semilir angin menciptakan bulu kudukku merinding seketika. Suara gumam nyanyian itu semakin terdengar terang di telingaku, rasa penasaranku pun semakin besar lengan berkuasa walaupun rasa takut ikut menjalariku. Suara itu berasal dari sisi belakang pohon sakura.
Ku mantapkan langkahku menuju balik pohon sakura, ku intip dari balik pohon sakura itu. Kedua mataku menangkap sosok seorang gadis berambut hitam panjang lurus menggunakan baju putih, saya merasa ragu apakah beliau insan ataukah hantu. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan terang alasannya gadis itu memunggungiku. Entah mengapa gadis yang kulihat itu berhenti bernyanyi, degupan jantungku tiba-tiba semakin berdegup kencang dan pandanganku pun tidak bisa teralihkan.
“HUUUAA” teriakku kencang dikala gadis itu tiba-tiba saja menoleh ke arahku dan tentu saja itu sangat mengejutkan bagiku. Saking terkejutnya diriku saya hingga terjatuh ke belakang.
“Aduh..” rintihku kesakitan sambil kuusap pantatku.
“Apa kau baik-baik saja ?” tanya seseorang padaku, kutorehkan pandanganku menatap sosok yang ada didepannku.
“Huaa…menjauh dariku hantu” ujarku ketakutan.
“Hei…kau ini kenapa ?” tanyanya padaku sambil menyadarkanku dengan menggoyangkan pundakku. Aku pun tersadar dan kutatap wajah gadis itu sedikit khawatir padaku.
“Ka…kau…ini insan atau hantu ?” tanyaku untuk memastikan.
“Astaga kau ini jelas-jelas saya manusialah, dasar” jawabnya dengan nada sedikit tersinggung.
“Maaf kukira tadi kau ialah hantu penunggu pohon sakura ini” ujarku menyesal. Gadis manis berambut hitam panjang lurus menggunakan seragam pasien rumah sakit itu pribadi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku.
“Apa yang lucu ?” tanyaku padanya.
“Haha…kau ini lucu sekali mana ada hantu di siang bolong begini” jawabnya sambil terkikik. Sementara saya menatapnya dengan tatapan kesal.
“Maafkan saya sudah membuatmu ketakutan, sini kubantu kau berdiri” ucapnya padaku sambil membantuku berdiri.
“Oh..iya namaku Sherafina Salsabila panggil saja Shera, kalau kau ?” kata Shera padaku.
“Aku Sean, Sean Alrescha” ujarku
“Baiklah Sean mulai kini kita berteman” kata Shera dengan nada yang senang.
Sejak dikala itu saya dan Shera sering bermain bersama di bukit belakang rumah sakit dan kami menjadi sahabat. Kaki kananku yang patah pun berangsur sembuh, saya pun diperbolehkan pulang. Meskipun saya sudah tidak lagi diinap di rumah sakit, saya masih tetap mengunjungi rumah sakit hanya untuk bertemu dengan Shera. Karena waktu itu sebelum saya berpamitan padanya saya menciptakan komitmen dengannya untuk terus menemuinya hingga ia sembuh dari sakitnya. Hingga suatu hari dikala dimana setiap hari saya mengunjungi bukit untuk pertama kalinya saya melihat Shera tertidur beralaskan rumput hijau dengan tenang. Tidak biasanya gadis berumur sekitar 13 tahun sebaya denganku tengah tertidur ketika saya datang. Biasanya gadis itu selalu menungguku sambil bermain ayunan mungkin kini ia sedang lelah alasannya itu ia tertidur. Kulihat wajahnya dari hari ke hari semakin memucat. Aku sedikit khawatir padanya, belum pernah kutanyakan padanya ihwal sakit apa yang sedang ia alami.
Kulihat kedua mata sayunya perlahan membuka dan wajahnya tersenyum ketika melihatku. Aku pun membalasnya dengan senyuman yang belum pernah kutunjukkan pada siapapun.
“Sean kau sudah datang, maaf tampaknya saya ketiduran lagi ya” ucapnya sambil tersenyum. Entah mengapa saya merasa dibalik senyumannya ia menyimpan banyak kesedihan, ingin rasanya saya menanyakannya tetapi kali ini rasa enggan mengalahkan niatku.
“Tidak apa-apa tampaknya kau sangat kelelahan” ucapku padanya.
“Aku baik-baik saja Sean jangan khawatir” ungkapnya padaku sambil tersenyum. Kata-kata yang diucapkannya seolah berusaha menyakinkan diriku untuk tidak mengkhawatirkan kondisinya.
“Kali ini kita bermain apa ya ?” katanya padaku dengan nada ceria.
“Bagaimana kalau kita menciptakan origami kebetulan hari ini saya membawa kerta origami” usulku padanya pribadi diterima Shera begitu saja.
“Shera” panggilku pada gadis kecil yang duduk disampingku.
“Iya” jawabnya singkat sambil melipat kertas origami.
“Kau ini bekerjsama sakit apa ?” tanyaku pada Shera. Mendengar pertanyaanku gadis itu pribadi melongo membuatku merasa tidak yummy mungkin alasannya kata-kataku telah menyinggungnya.
“Ma…maaf Shera jikalau pertanyaanku telah menyinggungmu kau tidak perlu menjawabnya” ucapku padanya.
“Tidak apa-apa kok Sean, niscaya kau sangat ingin tau kan” katanya padaku.
“Aku mempunyai penyakit jantung lemah dan alasannya penyakit ini saya sering masuk ke rumah sakit” lanjutnya.
“Maaf” ucapku menyesal, gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan kemudian menatap ke arahku.
“Tidak apa-apa Sean, ini bukan salahmu” ungkapnya padaku berusaha menyakinkanku untuk tidak merasa bersalah.
Tanpa disadari waktu terus berjalan sang matahari hendak menenggelamkan dirinya dalam langit senja.
“Huahh…hari sudah sore Sean saatnya kau pergi orang tuamu niscaya sedang mencarimu sekarang” tuturnya padaku.
“Ah…iya kau benar kalau begitu hingga bertemu besok” ucapku padanya.
Bukannya saya pulang ke rumah tetapi saya malah menunggu Shera kembali ke rumah sakit dengan bersembunyi di balik pohon sakura. Shera tidak menyadari akan keberadaanku disini. Mendadak hatiku tersentak ketika saya mendengar isakan tangis yang tak lain dari Shera.
“Tuhan berilah saya sedikit waktu lagi aku…aku ingin bersama Sean walau itu hanya sebentar” ucapnya. Entah mengapa dadaku terasa sesak mendengar harapan Shera, gadis itu sangat baik terhadapku beliau juga yang membuatku berbaikan dengan ayahku dan beliau juga orang pertama yang mau berteman dengan anak pembangkang sepertiku.
Ketika gadis itu sudah kembali ke rumah sakit saya pun segera bergegas menuju ruang daerah dimana ayahku bekerja, kebetulan ayahku ialah dokter yang menangani Shera. Ayahku juga mengetahui pertemananku dengan Shera.
“Ayah” panggilku pada seorang laki-laki paruh baya yang tengah melihat beberapa kertas laporan entah laporan apa itu saya tidak peduli.
“Sean, kau belum pulang ibumu sangat khawatir padamu” ungkapnya padaku.
“Ayah, bisakah kau menyembuhkan penyakit pada Shera” ucapku padanya. Kulihat raut wajah ayahku pribadi berubah begitu mendengar ihwal Shera.
“Sean dengarkan ayah, ayah hanyalah seorang dokter bukanlah Tuhan ayah hanya bisa meringankan rasa sakit pasien tidak semua obat bisa menghilangkan penyakit pasien” terangnya padaku.
“Pasien bisa sembuh itu alasannya berkat dari Tuhan” lanjutnya.
“Berapa…berapa sisa waktu yang Shera miliki ?” tanyaku pada laki-laki paruh baya berjas putih yang ada didepanku.
“Jika dihitung dalam ahad ini sisa waktu Shera tinggal 12 jam mulai sekarang” jawab laki-laki itu padaku. Rahangku mengeras dengan bergegas saya keluar dari ruangan ayahku meninggalkan laki-laki paruh baya itu dalam kebingungan.
“Ckk…kenapa waktunya terlalu singkat” gumamku kesal saking kesalnya kuluapkan dengan memukul keras dinding rumah sakit berulang kali. Rasa sesak bercampur kesal dan amarah kembali menyerangku, kedua mataku terasa sembab penuh dengan air mata yang siap jatuh kapanpun.
“Sean kaukah itu ?” tanya seseorang menyebutkan namaku, saya hafal betul dengan bunyi ini sontak saya pun menoleh dan kudapati seorang gadis manis berambut hitam panjang menggunakan baju pasien tengah menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
“Shera” gumamku lirih.
“Astaga Sean kau berdarah” ucapnya terkejut, saya pun mengalihkan pandanganku pada tangan kananku yang mengeluarkan cairan berwarna merah pekat mungkin tanggapan ulahku yang memukul dinding keras itu berulang kali.
“Ayo ikut saya kita obati lukamu” tuturnya padaku pribadi menggandeng tanganku dan membawaku duduk di dingklik koridor rumah sakit.
“Tunggu disini akan kubawakan P3K” ungkapnya padaku, Shera pribadi bergegas pergi mengambil peralatan itu kemudian kembali menghampiriku. Kulihat wajahnya begitu sangat khawatir padaku.
“Kau ini kenapa memukul tembok sih lihat kau jadi terluka kan” tuturnya padaku sembari mengobatiku dengan telaten.
“Luka ini tidak ada apa-apanya jangan khawatir sebaiknya kau khawatirkan dirimu” ujarku padanya.
“Haha…kenapa saya harus mengkhawatirkan diriku saya baik-baik saja kok” ucapnya dengan nada ceria seolah tidak terjadi apa-apa.
“Jangan bohong” kataku dengan tegas, mendadak gadis itu menghentikan aktivitasnya membalut tanganku dengan kain perban.
“Apa…apa maksudmu Sean, sungguh aku…” belum sempat gadis itu meneruskan kata-katanya entah mengapa tubuhku refleks pribadi memeluknya dengan erat.
“Se…Sean apa yang kau lakukan ?”tanya gadis itu grogi.
“Diamlah, kalau kau melihat wajahku saya akan sangat murka padamu” kataku dengan nada yang sengaja kubuat tegas semoga beliau tidak mengetahui kalau saya juga duka karenanya. Mendengar perkataanku gadis itu pribadi melunak ia tidak lagi sekaku waktu ia grogi, saya bisa mencicipi perasaan gadis itu ingin menangis dan menahannya sedari tadi seolah ia baik-baik saja. Karena itu saya memberanikan diri untuk memeluknya semoga ia bisa menangis tanpa saya ketahui.
Cukup usang ia menangis dalam pelukanku mungkin alasannya banyak kesedihan yang ia pendam dibalik senyumannya itu. Aku merasa diriku ini orang yang payah sekali tidak bisa menciptakan orang lain tersenyum bahagia, hanya problem yang selalu kubuat. Kurasakan dirinya mulai bergerak melepas pelukanku kemudian menatapku dengan senyuman manisnya. Selintas inspirasi muncul di pikiranku, kemudian kutarik tangannya beranjak dari kursi.
“Sean” panggilnya lirih, namun saya hanya membisu dan mengajaknya keluar dari rumah sakit.
“Kita mau kemana ? kau tahu kan pasien tidak boleh keluar rumah sakit dikala malam” ungkapnya padaku. Aku terhenti sejenak kemudian melepas jaketku kuberikan pada Shera, gadis itu menatapku dengan tatapan bingung.
“Pakai itu dan jangan banyak bertanya” kataku dengan nada yang kubuat setegas mungkin. Gadis itu berdasarkan pada perkataanku ia pribadi menggunakan jaketku, kami berjalan mengendap-endap keluar dari rumah sakit menuju bukit belakang rumah sakit.
Sepanjang perjalanan gadis itu memang tidak banyak bertanya padaku hanya saja ia sering mengeluh alasannya perjalanan menuju bukit belakang rumah sakit minim penerangan cahaya. Aku hanya menggunakan lampu senter dari ponselku sebagai penerangan. Terkadang saya merasa ingin tertawa melihat tingkahnya dikala mengeluh namun lama-kelamaan kata-kata keluhannya membuatku semakin gregetan dengannya.
Karena Shera terus saja mengeluh tanpa ia sadari kami sudah hingga di bukit, saya pun sengaja berhenti mendadak tanpa memberitahu Shera risikonya ia pun menabrak punggungku.
“Aduh, Sean kalau berhenti bilang dong” keluhnya padaku.
“Kita sudah hingga di bukit” ujarku padanya.
“Astaga Sean kau mengajakku keluar hanya untuk ke bukit ini untuk apa sih” gerutunya padaku.
“Shera” panggilku padanya.
“Apa” sahutnya singkat.
“Lihat” kataku sambil mengarahkan kepalanya menghadap ke langit malam yang bertaburan kilauan cahaya dari ribuan bintang.
“Indahnya” gumamnya kagum, dalam hati saya senang melihatnya senyuman di wajahnya namun teringat senyuman itu tidak akan bertahan usang membuatku sedih.
“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanyanya padaku.
“Itu rahasia” jawabku singkat. Tiba-tiba saja Shera memukulku pelan mengalihkan pandanganku menatap ke arahnya. Kuajak beliau duduk dibawah pohon sakura sambil memandangi langit malam.
“Kau itu ibarat misteri susah ditebak dan penuh kejutan” katanya padaku. Sementara itu saya hanya melongo mendengar kata-katanya. Tiba-tiba ia bersandar di pundakku, dan entah sikapnya itu menciptakan jantungku berdegup kencang.
“Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu berkatmu saya tak lagi mencicipi kesepian, saya sangat berterima kasih padamu Sean alasannya kau juga saya takkan bisa mencicipi perasaan ini saya sungguh bahagia” ungkapnya padaku.
“Aku juga merasa beruntung bisa bertemu denganmu Shera” ucapku dalam hati.
“Sepertinya aku…menyukaimu..Sean, bagaimana denganmu ?” tanyanya padaku. Aku terbelalak mendengar pernyataan Shera padaku.
“Aku…aku juga menyukaimu Shera” jawabku dengan rona merah di pipiku alasannya menahan malu.
“Sean sekali lagi terima kasih sudah membuatku…bahagia…” mendadak suasana menjadi hening yang ada hanya bunyi semilir angin. Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya membuatku bertanya-tanya apakah ia tertidur. Iya hari semakin larut mungkin sudah waktunya ia kembali ke rumah sakit untuk beristirahat.
“Shera” panggilku padanya, namun tidak ada respon sama sekali. Kupanggil ia sekali lagi sambil menggoyangkan pelan tubuhnya akan tetapi lagi-lagi ia tidak meresponku. Saat kuubah posisiku gadis itu tidak bergeming ia ibarat pingsan, sekali lagi kugoyangkan tubuhnya lebih keras sambil memanggil namanya ia tidak merespon. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, wajahnya memucat dan kurasakan kulitnya semakin dingin.
“Shera, bangkit jangan menakutiku ibarat ini” teriakku padanya namun lagi-lagi ia hanya memejamkan matanya dan tidak bersuara sama sekali. Aku pun bergegas menggendong Shera membawanya kembali ke rumah sakit.
“Bertahanlah Shera” ucapku padanya. Dengan terburu-buru kubawa badan gadis itu yang sudah melemah ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit semua orang begitu terkejut ketika melihatku kepanikanku begitu dengan ayah yang melihat kondisiku tengah membopong Shera.
“Sean apa yang terjadi ?” tanya ayah padaku.
“Ayah tolong Shera dia..dia..” saya tak mampu melanjutkan kata-kataku. Ayahku pribadi mengerti maksud perkataanku dengan cepat ia melaksanakan tindakan medis. Aku ingin menemani Shera namun suster melarangku masuk, saya hanya bisa pasrah menunggu kabar baik di luar ruangan.
Sudah dua jam lebih saya menunggu diluar bersama kedua orang bau tanah Shera, kedua orang bau tanah Shera menginterogasiku dengan ribuan pertanyaan yang tidak bisa kujelaskan bahkan mereka menyalahkanku dikarenakan telah mengajak Shera keluar rumah sakit. Aku akui itu ialah kesalahanku alasannya itu saya mendapatkan kata-kata bergairah dari kedua orang bau tanah Shera. Tak usang kemudian ayahku keluar dari ruangan Shera, ia menatap kedua orang bau tanah Shera dengan tatapan yang sulit kuartikan.
“Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi nyawa Shera tidak bisa tertolong sekali lagi maafkan kami” ucap ayah. Mendengar pernyataan itu bagai tersambar petir bagiku dan juga kedua orang bau tanah Shera.
Semenjak kepergian Shera kedua orang tuanya semakin membenciku, hidupku yang dulu penuh canda tawa dikala bersama Shera lenyap begitu saja. Hidupku berkembang menjadi kelam, saya menjadi diriku yang lama. Hingga suatu hari kedua orang bau tanah Shera tiba menemuiku untuk meminta maaf padaku dan memberiku sebuah buku catatan dengan sampul berwarna biru tua. Buku catatan itu ternyata milik Shera, kubuka buku catatan itu ternyata berisi ungkapan hati Shera. Kubaca semua goresan pena dalam buku dan tanpa kusadari air mataku mengalir dikala membaca selesai dari buku catatan itu.
Waktu terus berjalan kini umurku telah menginjak 23 tahun, saya lulus kuliah dan bekerja di rumah sakit daerah ayahku bekerja. Aku bekerja sebagai dokter penyakit dalam di usia muda, semua orang-orang di rumah sakit kagum pada diriku. Sejak dikala kuterima buku catatan itu, semangatku kembali saya merubah hidup kelamku menjadi hidup yang cerah dengan masa depan yang indah.
Sekarang saya duduk di bawah pohon sakura menutup kedua mataku melepas lelah, kedua tanganku memeluk buku catatan bersampul biru bau tanah derma dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dia juga ialah orang pertama yang membuatku jatuh hati namun Tuhan berkata lain saya dan beliau berpisah kami hidup di dunia yang berbeda. Di manapun berada saya masih mengingat Shera dengan jelas, kemana pun saya pergi saya selalu membawa buku pemberiannya. Dengan begini saya bisa mencicipi beliau selalu ada bersamaku.
“Dokter Sean” kata seorang anak kecil wanita menyebut namaku. Perlahan kedua mataku terbuka dan melihat sosok anak kecil melambai padaku. Aku tersenyum lembut pada anak kecil itu.
“Tetap disana saya akan datang” ujarku padanya. (Dyah Ayu Taula)
Selesai
Belum ada Komentar untuk "✔ 7 Days With You"
Posting Komentar